Selasa, 01 November 2011


MPM IM FKM UI 2008

Kehidupan kampus tidak melulu tentang menuntut ilmu, karena selain mengembangkan ilmu di FKM UI, mahasiswa dapat mengembangkan potensi diri, bakat, minat, serta kreativitas dengan mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan. Diharapkan dari berbagai aktivitas yang bersifat ekstrakurikuler tadi mahasiswa dapat menjadi sumber daya yang tak hanya menguasai bidang keilmuan, tapi juga memahami dan mampu mengaplikasikan keahlian berorganisasi dan manajerial.
Organisasi
Organisasi kemahasiswaan yang berada di lingkungan FKM UI adalah:
  1. Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM)
  2. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
  3. BSO Nuansa Persaudaraan Islami (Nurani)
  4. BSO Bursa Mahasiswa
  5. Sminat Persekutuan Oikumene Sivitas Akademika (POSA)
  6. Sminat Teater Trotoar
  7. Sminat Pasatwa
Selain itu masih terdapat pula organisasi-organisasi yang berbasis keilmuan di tiap departemen seperti OHSC, yang merupakan organisasi mahasiswa Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Adapula HME, Himpunan Mahasiswa Ekstensi
Fasilitas
Untuk memudahkan mahasiswa melakukan kegiatan kemahasiswaan, FKM UI menyediakan sarana dan prasarana sebagai berikut:
  1. Balai Kegiatan Mahasiswa, yang merupakan pusat kegiatan kemahasiswaan. Didalamnya terdapat sekretariat BEM dan MPM FKM UI, dan dapat digunakan untuk menyelenggarakan seminar maupun workshop.
  2. Lapangan olahraga
  3. Laboratorium komputer
  4. Mushalla
  5. Perpustakaan
  6. Mading

MPM (Majelis Perwakilan Mahasiswa) merupakan lembaga kemahasiswaan yang memiliki fungsi legislatif dan yudikatif. Fungsi legislatif MPM tercermin dalam upaya penampungan dan penyaluran aspirasi seluruh mahasiswa, sedang fungsi yudikatif MPM meliputi pengawasan kinerja lembaga kemahasiswaan hingga pengakarannnya di tingkat fakultas. Selain itu, MPM juga memiliki fungsi sebagai jembatan penghubung atau fasilitator antara mahasiswa dan pihak dekanat.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan MPM IM FKM UI 2008 adalah membuat Garis-Garis Besar Pedoman Kerja (GBPK) BEM IM FKM UI, pengalokasian RKAT yang berpegang teguh pada high equity dan efisiensi, pengadaan forum RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara BEM dan MPM, forum BADKO (Badan Koordinasi) antara MPM dan berbagai Lembaga Kemahasiswaan di FKM UI, FORMA (Forum Mahasiswa) terkait isu urgent dan insidental di lingkungan FKM UI, Forum Ketua Angkatan guna transformasi informasi dan pengakaran dalam upaya penterjemahan visi MPM IM FKM UI 2008 yang bersahabat.
Dalam struktur MPM IM FKM UI 2008 terdapat seorang Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum dan 3 komisi, yakni:
- Komisi I yang memiliki fungsi sebagai pengawas kinerja Lembaga Kemahasiswaan yang ada di FKM UI, mengadakan Open Tender PO OKK FKM UI, dan mengawasi jalannya PEMIRA FKM UI.
- Komisi II bertugas mengadvokasi kebutuhan mahasiswa ke pihak dekanat, menjaring aspirasi lembaga kemahasiswaan melalui Badan Koordinasi (BADKO) rutin, dan memfasilitasi kepanitiaan MUBESMA (jika diperlukan).
- Komisi III berperan dalam mempublikasikan hasil dan isu terkini di MPM IM FKM UI kepada seluruh mahasiswa FKM UI.

Sabtu, 29 Oktober 2011


DESAIN DAN STRUKTUR ORGANISASI FORMAL

Alasan pokok mengapa orang-orang membentuk organisasi adalah untuk mencapai tujuan-tujuan secara bersama, dimana mereka tidak dapat mencapainya sendiri.Menurut para penulis teori organisasi klasik, organisasi formal adalah system kegiatan yang terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan di bawah kekuasaan dan kepemimpinan. Organisasi formal ini merupakan organisasi  yang dengan sengaja direncanakan dan strukturnya secara tegas disusun.Jadi, struktur organisasi merupakan suatu kerangka yang menunjukkan seluruh kegiatan-kegiatan untuk pencapaian organisasi.
Struktur sederhana
Struktur sederhana adalah sebuah struktur yang dicirikan dengan kadar departementalisasi yang rendah, rentang kendali yang luas, wewenang yang terpusat pada seseorang saja, dan sedikit formalisasi. Struktur sederhana paling banyak dipraktikkan dalam usaha-usaha kecil di mana manajer dan pemilik adalah orang yang satu dan sama. Kekuatan dari struktur ini adalah kesederhanaannya yang tercermin dalam kecepatan, kefleksibelan, ketidakmahalan dalam pengelolaan, dan kejelasan akuntabilitas. Satu kelemahan utamanya adalah struktur ini sulit untuk dijalankan di mana pun selain di organisasi kecil karena struktur sederhana menjadi tidak memadai tatkala sebuah organisasi berkembang karena formalisasinya yang rendah dan sentralisasinya yang tinggi cenderung menciptakan kelebihan beban (overload) di puncak.
Birokrasi
Birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat, rentang kendali yang sempit, dan pengambilan keputusan yang mengikuti rantai komando.
Kekuatan utama birokrasi ada kemampuannya menjalankan kegiatan-kegiatan yang terstandar secara sangat efisien, sedangkan kelemahannya adalah dengan spesialisasi yang diciptakan bisa menimbulkan konflik-konflik subunit, karena tujuan-tujuan unit fungsional dapat mengalahkan tujuan keseluruhan organisasi. Kelemahan besar lainnnya adalah ketika ada kasus yang tidak sesuai sedikit saja dengan aturan, tidak ada ruang untuk modifikasi karena birokrasi hanya efisien sepanjang karyawan menghadapi masalah yang sebelumnya telah mereka hadapi dan sudah ada aturan keputusan terprogram yang mapan.
Struktur matriks
Struktur matriks adalah sebuah struktur yang menciptakan garis wewenang ganda dan menggabungkan departementalisasi fungsional dan produk. Struktur matriks dapat ditemukan di agen-agen periklanan, perusahaan pesawat terbang, laboratorium penelitian dan pengembangan, perusahaan konstruksi, rumah sakit, lembaga-lembaga pemerintah, universitas, perusahaan konsultan manajemen, dan perusahaan hiburan.
Pada hakikatnya, struktur matriks menggabungkan dua bentuk departementalisasi: fungsional dan produk. Kekuatan departementalisasi fungsional terletak, misalnya, pada penyatuan para spesialis, yang meminimalkan jumlah yang diperlukan sembari memungkinkan pengumpulan dan pembagian sumber daya khusus untuk keseluruhan produk. Kelemahan terbesarnya adalah sulitnya mengoordinasi tugas para spesialis fungsional yang beragam agar kegiatan mereka rampung tepat waktu dan sesuai anggaran. Departementalisasi produk, di lain pihak, memiliki keuntungan dan kerugian yang berlawanan. Departementalisasi ini memudahkan koordinasi di antara para spesialis untuk menyelesaikan tugas tepat waktu dan memenuhi target anggaran. Lebih jauh, departementalisasi ini memberikan tanggung jawab yang jelas atas semua kegiatan yang terkait dengan sebuah produk, tetapi dengan duplikasi biaya dan kegiatan. Matriks berupaya menarik kekuatan tersebut sembari menghindarkan kelemahan-kelemahan mereka.
Karakteristik struktural paling nyata dari matriks adalah bahwa ia mematahkan konsep kesatuan komando sehingga karyawan dalam struktur matriks memiliki dua atasan -manajer departemen fungsional dan manajer produk. Karena itulah matriks memiliki rantai komando ganda.

Desain Struktur Organisasi Modern
Struktur tim
Struktur tim adalah pemanfaatan tim sebagai perangkat sentral untuk mengoordinasikan kegiatan-kegiatan kerja. Karakteristik utama struktur tim adalah bahwa struktr ini meniadakan kendala-kendala departemental dan mendesentralisasi pengambilan keputusan ke tingkat tim kerja. Struktur tim juga mendorong karyawan untuk menjadi generalis sekaligus spesialis.
Organisasi virtual
Organisasi virtual adalah organisasi inti kecil yang menyubkontrakkan fungsi-fungsi utama bisnis.
Organisasi Nirbatas
Organisasi nirbatas adalah sebuah organisasi yang berusaha menghapuskan rantai komando, memiliki rentang kendali tak terbatas, dan mengganti departemen dengan tim yang diberdayakan.

Model desain struktur organisasi
Ada dua model ekstrem dari desain organisasi.
§  Model mekanistis, yaitu sebuah struktur yang dicirikan oleh departementalisasi yang luas, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yang terbatas, dan sentralisasi.
§  Model organik, yaitu sebuah struktur yang rata, menggunakan tim lintas hierarki dan lintas fungsi, memiliki formalisasi yang rendah, memiliki jaringan informasi yang komprehensif, dan mengandalkan pengambilan keputusan secara partisipatif.

Faktor penentu struktur organisasi
Sebagian organisasi terstruktur pada garis yang lebih mekanistis sedangkan sebagian yang lain mengikuti karakteristik organik. Berikut adalah faktor-faktor utama yang diidentifikasi menjadi penyebab atau penentu struktur suatu organisasi:
Strategi
Struktur organisasi adalah salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya. Karena sasaran diturunkan dari strategi organisasi secara keseluruhan, logis kalau strategi dan struktur harus terkait erat. tepatnya, struktur harus mengikuti strategi. Jika manajemen melakukan perubahan signifikan dalam strategi organisasinya, struktur pun perlu dimodifikasi untuk menampung dan mendukung perubahan ini. Sebagian besar kerangka strategi dewasa ini terfokus pada tiga dimensi -inovasi, minimalisasi biaya, dan imitasi- dan pada desain struktur yang berfungsi dengan baik untuk masing-masing dimensi.
Strategi inovasi adalah strategi yang menekankan diperkenalkannya produk dan jasa baru yang menjadi andalan. Strategi minimalisasi biaya adalah strategi yang menekankan pengendalian biaya secara ketat, menghindari pengeluaran untuk inovasi dan pemasaran yang tidak perlu, dan pemotongan harga. Strategi imitasi adalah strategi yang mencoba masuk ke produk-produk atau pasar-pasar baru hanya setelah viabilitas terbukti.
Ukuran organisasi
Terdapat banyak bukti yang mendukung ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara signifikan memengaruhi strukturnya. Sebagai contoh, organisasi-organisasi besar yang mempekerjakan 2.000 orang atau lebih cenderung memiliki banyak spesialisasi, departementalisasi, tingkatan vertikal, serta aturan dan ketentuan daripada organisasi kecil. Namun, hubungan itu tidak bersifat linier. Alih-alih, ukuran memengaruhi struktur dengan kadar yang semakin menurun. Dampak ukuran menjadi kurang penting saat organisasi meluas.
Teknologi
Istilah teknologi mengacu pada cara sebuah organisasi mengubah input menjadi output. Setiap organisasi paling tidak memiliki satu teknologi untuk mengubah sumber daya finansial, SDM, dan sumber daya fisik menjadi produk atau jasa.
Lingkungan
Lingkungan sebuah organisasi terbentuk dari lembaga-lembaga atau kekuatan-kekuatan di luar organisasi yang berpotensi memengaruhi kinerja organisasi. Kekuatan-kekuatan ini biasanya meliputi pemasok, pelanggan, pesaing, badan peraturan pemerintah, kelompok-kelompok tekanan publik, dan sebagainya.
Struktur organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya karena lingkungan selalu berubah. Beberapa organisasi menghadapi lingkungan yang relatif statis -tak banyak kekuatan di lingkungan mereka yang berubah. Misalnya, tidak muncul pesaing baru, tidak ada terobosan teknologi baru oleh pesaing saat ini, atau tidak banyak aktivitas dari kelompok-kelompok tekanan publik yang mungkin memengaruhi organisasi. Organisasi-organisasi lain menghadapi lingkungan yang sangat dinamis -peraturan pemerintah cepat berubah dan memengaruhi bisnis mereka, pesaing baru, kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, preferensi pelanggan yang terus berubah terhadap produk, dan semacamnya. Secara signifikan, lingkungan yang statis memberi lebih sedikit ketidakpastian bagi para manajer dibanding lingkungan yang dinamis. Karena ketidakpastian adalah sebuah ancaman bagi keefektifan sebuah organisasi, manajemen akan menocba meminimalkannya. Salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian lingkungan adalah melalui penyesuaian struktur organisasi.

Struktur organisasi adalah bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal
Struktur organisasi akan memberikan informasi tentang :
-           Tipe organisasi , artinya struktur organisasi akan membrikan informasi tentang tipe organisasi yang diperukan prusahaan.
-           Pendepartemenan organisasi artinya struktur organisasi akan memberikan informasi mengenai dasar pendepartemenan (bagian),apa berdasarkan fungsi2 manajemen, wilayah, produksi, shif,dan lain sebagainya.
-           Kedudukan, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai apa seseorang termasuk kelompok manajerial atau karyawan operasional.
-           Jenis wewenang, artinya struktur rganisasi memberikan informasi tentang wewenang yang dimiliki seseorang.
-           Rentang kendali, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai jumlah karyawan dalam setiap department (bagian).
-           Manajer dan bawahan, artinya struktur organisasi memberikan informasi mengenai garis perintah dan tanggung jawab, siapa atasan dan bawahan.
-           Tingkatan manajer , artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang top manager, middle manager, dan lower manager .
-           Bidang pekerjaan, artinya setiap kotak dan struktur organisasi memberikan informasi mengenai tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaaan serta tanggung jawab yang dilakukan pada bagian tersebut.
-           Tingkat manajenen, artinya sebuah bagan tidak hanya menunjukkan menejer dean bawahan secara perorangan, tetapi juga hierarki manajemen secara keseluruhan. Semua kayawan yang melapor pada orang yang sama berada pada tingkat manajemen yang yang sama, tidak jadi soal dimana mereka ditempatkan dalam organisasi.
-           Pimpinan organisasi, artinya struktur organisasi memberikan informasi tentang apa pimpinan tunggal atau pimpinan kolektif, atau presidium.

Struktur organisasi (formal) mempunyai dua muka yaitu:
a.         Model struktur, dalam hal ini kita dapat mempergunakan prinsip-prinsip teori organisasi.
b.         Dimensi-dimensi dasar struktur, yang akan menentukan kegiatan-kegiatan dan hubungan-hubungan yang harus dilakukan dan tingkat spesialisasi yang dapat di berikan.

Arti dan manfaat organisasi
Organisasi dapat diartikan sebagai suatu pengaturan orang-orang yang sengaja untuk mencapai tujuan tertentu. Beberapa pengaturan tersebut sudah kita ketahui terjadi di banyak bidang. Misal pada instansi sekolah, pemerintahan, kampus, bank. Semua dapat kita jumpai sehari-hari.
The Liang Gie
Struktur organisasi merupakan kerangka yang mewujudkan pola tetap dari hubungan-hubungan diantara bidang-bidang kerja, maupun orang-orang yang menunjukkan kependudukan dan peran masing-masing dalam kebulatan kerjasama.
Drs. H. Malahayu S.P. Hasibuan
Struktur organisasi merupakan suatu gambar yang menggambarkan tipe organisasi, pendepartemenan organisasi kedudukan dan jenis wewenang pejabat, bidang dan hubungan pekerjaan, garis perintah dan tanggung jawab, rentang kendali dan sistem pimpinan organisasi.
Beberapa manfaat organisasi yaitu:
1. Organisasi sebagai penuntun pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan akan lebih efektif dengan adanya organisasi yang baik.
2. Organisasi dapat mengubah kehidupan masyarakat. Contoh dari manfaat ini ialah, jika organisasi bergerak di bidang kesehatan dapat membentuk masyarakat menjadi dan memiliki pola hidup sehat. Organisasi Kepramukaan, akan menciptakan generasi mudah yang tangguh dan ksatria.
3. Organisasi menawarkan karier. Karier berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan. Jika kita menginginkan karier untuk kemajuan hidup, berorganisasi dapat menjadi solusi.
4. Organisasi sebagai cagar ilmu pengetahuan. Organisasi selalu berkembang seiring dengn munculnya fenomena-fenomena organisasi tertentu. Peran penelitian dan pengembangan sangat dibutuhkan sebagai dokumentasi yang nanti akan mengukir sejarah ilmu pengetahuan.

Proses Organisasi


Organisasi identik dengan sekelompok individu yang terstruktur dan sistematis yang berada dalam sebuah sistem. Pengertian organisasi adalah wadah untuk sekelompok individu berinteraksi dalam wewenang tertentu. Organisasi yang trbentuk terdiri dari beberapa kelompok yang memiliki kepentingan yang sama untuk mewujudkan tujuan bersama.
Struktur Organisasi Merupakan suatu kerangka yang menunjukan seluruh kegiatan-kegiatan untuk pencapaian tujuan organisasi, hubungan antar antar fungsi serta wewenang dan tanggung jawabnya di samping itu  struktur organisasi juga mencerminkan mekanisme-mekanisme formal pada pengolaan organisasi.
Berikut ini adalah syarat-syarat yang harus terpenuhi dalam sebuah organisasi :

§  Waktu. Untuk dapat berpatisipasi diperlukan waktu. Waktu yang dimaksudkan disini adalah untuk memahamai pesan yang disampaikan oleh pemimpin. Pesan tersebut mengandung informasi mengenai apa dan bagaimana serta mengapa diperlukan peran serta.

§  Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan dana perangsang, hendaknya dibatasi seperlunya agar tidak menimbulkan kesan “memanjakan”, yang akan menimbulkan efek negatif.
§  Subyek partisipasi hendaknya relevan atau berkaitan dengan organisasi dimana individu yang bersangkutan itu tergabung atau sesuatau yang menjadi perhatiannnya.
§  Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dalam arti kata yang bersangkutan memiliki luas lingkup pemikiran dan pengalaman yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum ada, maka unsur-unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.
§  Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama atau yang sama-sama dipahami, sehingga tercipta pertukaran pikiran yang efektif atau berhasil.
§  Para pihak yang bersangkutan bebas di dlam melaksanakan peran serta tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
§  Bila partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan hendaknya didasarkan kepada kebebasan dalam kelompok, artinya tidak dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat menimbulkan ketegangan atau gangguan dalam pikiran atau jiwa pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini didasarkan kepada prisnsip bahwa partisipasi adalah bersifat persuasif. 

Sabtu, 08 Januari 2011

AGAMA DAN MASYARAKAT;SUATU TINJAUAN FUNGSI AGAMA TERHADAP MASYARAKAT

Penjelasan yang bagaimanapun adanya tentang agama, tak akan pernah tuntas tanpa mengikutsertakan aspek-aspek sosiologisnya. Agama, yang menyangkut kepercayaan kepercayaan serta berbagai prakteknya, benar-benar merupakan masalah sosial dan pada saat ini senantiasa ditemukan dalam setiap masyarakat manusia. Karena itu segera lahir pertanyaan tentang bagaimana seharusnya dari sudut pandang sosiologis. 
Dalam pandangan sosiologi, perhatian utama terhadap agama adalah pada fungsinya terhadap masyarakat. Istilah fungsi seperti kita ketahui, menunjuk kepada sumbangan yang diberikan agama, atau lembaga sosial yang lain, untuk mempertahankan (keutuhan) masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan berjalan terus-menerus. Dengan demikian perhatian kita adalah peranan yang telah ada dan yang masih dimainkan. Emile Durkheim sebagai sosiolog besar telah memberikan gambaran tentang fungsi agama dalam masyarakat. Dia berkesimpulan bahwa sarana-sarana keagamaan adalah lambang-lambang masyarakat, kesakralan bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku oleh masyarakat secara keseluruhan bagi setiap anggotanya, dan fungsinya adalah mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial.
Agama telah dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu; sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang membuat manusia beradab. Sebenarnya lembaga keagamaan adalah menyangkut hal yang mengandung arti penting tertentu, menyangkut masalah aspek kehidupan manusia, yang dalam transendensinya, mencakup sesuatu yang mempunyai arti penting dan menonjol bagi manusia. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa lembaga-lembaga keagamaan merupakan bentuk asosiasi manusia yang paling mungkin untuk terus bertahan.
Dalam kaitannya dengan lembaga sosial yang ada dalam masyarakat, hendaknya cara berpikir sosiologis dipusatkan pada lembaga-lembaga kecil dan besar, serta gabungan lembaga-lembaga yang merupakan sub-sub sistem dalam masyarakat. Para sosiolog cenderung untuk memperhatikan paling sedikit 4 kelompok lembaga-lembaga yang penting (yang dapat dijabarkan ke dalam kategori-kategori yang lebih kecil dan khusus), yakni:
1.      Lembaga-lembaga politik yang ruang lingkupnya adalah penerapan kekuasaan dan monopoli pada penggunaan kekuasaan secara sah.
2.      Lembaga-lembaga ekonomi yang mencakup produksi dan distribusi barang dan jasa.
3.      Lembaga-lembaga integrative-ekspresif, yang menurut Inkeles adalah (Alex inkeles 1965: 68).
“… Those dealing with the arts, drama, and recreation..This group also includes institutions which deal with ideas, and with the transmission of received values. We may, therefore, include scientific, religius, philosophical, and educational organizations within this category”.
4.      Lembaga-lembaga kekerabatan mencakup kaedah-kaedah yang mengatur hubungan seksual serta pengarahan terhadap golongan muda.
Walaupun tampaknya, suatu lembaga memusatkan perhatian terhadap suatu aspek kemasyarakatan tertentu, namun di dalam kenyataan lembaga-lembaga tersebut saling berkaitan secara fungsional. Setiap lembaga berpartisipasi dan memberikan kontribusi dengan cara-cara tertentu pada kehidupan masyarakat setempat (“community”).
Perbincangan tentang agama dan masyarakat memang tidak akan pernah selesai, seiring dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Baik secara teologis maupun sosiologis, agama dapat dipandang sebagai instrument untuk memahami dunia. Dalam konteks itu, hampir-hampir tak ada kesulitan bagi agama apapun untuk menerima premis tersebut. Secara teologis hal itu dikarenakan oleh watak omnipresent agama. Yaitu, agama, baik melalui simbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya “hadir dimana-mana”, ikut mempengaruhi, bahkan membentuk struktur sosial, budaya , ekonomi dan politik serta kebijakan publik. Dengan ciri ini, dipahami bahwa dimanapun suatu agama berada, ia diharapkan dapat memberi panduan nilai bagi seluruh diskursus kegiatan manusia, baik yang bersifat sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Sementara itu, secara sosiologis tak jarang agama menjadi faktor penentu dalam proses transformasi dan modernisasi. 
Kehadiran agama-agama didunia memang mampu memberikan warna-warni terhadap kehidupan dunia. Karena agama secara umum kehadirannya disertai “dua muka” (janus face). Pada satu sisi , secara inherent agama memiliki idensitas yang bersifat “exclusive”, “particularist”, dan“primordial”. Akan tetapi, pada waktu yang sama, agama juga kaya akan identitas yang bersifat “inclusive”, “universalist”, dan“transcending”. 7 Atau dengan kata lain mempunyai energi konstruktif dan destruktif terhadap umat manusia. Yang dalam perjalanan sejarahnya mampu memberikan kedamaian hidup umat manusia, tetapi juga menimbulkan malapetaka bagi dunia akibat perang antar agama dan politisasi suatu agama tertentu oleh para penguasa yang dzolim. Sejarah mencatat “perang salib” atau “perang sabil” antara islam dengan Kristen selama empat abad lamanya dengan kemenangan silih berganti.
Pemeluk agama-agama di dunia meyakini bahwa fungsi utama agama yang dipeluknya itu adalah memandu kehidupan manusia agar memperoleh keselamatan di dunia dan keselamatan sesudah hari kematian. Mereka menyatakan bahwa agamanya menyatakan kasih sayang pada sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan, alam tumbuh-tumbuhan, hewan, hingga benda mati. Sehingga dalam usahanya untuk membentuk kehidupan yang damai, banyak dari para ahli dan agamawan dari tiap-tiap agama melakukan dialog-dialog untuk memecahkan konflik keagamaan. Pada level dunia mulai muncul pandangan tentang universal religionyaitu suatu agama yang tidak membedakan dari mana asal teologis dan unsur transcendental suatu agama tetapi memandang tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian dan keberlangsungan hidup berdampingan.
Di Indonesia sendiri konflik agama baik yang bersifat murni maupun yang ditumpangi oleh aspek budaya, politik, ideologi dan kepentingan golongan banyak mewarnai perjalanan sejarah Indonesia. Bahkan diera reformasi dan paska reformasi, agama telah menunjukkan peran dan fungsinya yang nyata. Baik kekuatan yang konstuktif maupun kekuatan yang destruktif. Sesudah gerakan reformasi, suatu keyakinan ketuhanan atau keagamaan banyak dituduh telah menyebabkan konflik kekerasan dinegeri ini. Selama empat tahun belakangan, ribuan anak bangsa mati tanpa tahu untuk apa. Ribuan manusia terusir dari kampong halamannya, tempat mereka dilahirkan. Ribuan anak-anak lainnya pun menjadi piatu, kehilangan sanak keluarganya dan orang-orang yang dikasihi.
Pertanyaan tentang mengapa bangsa yang selama ini dikenal santun dan relegius, berubah beringas dan mudah melakukan tindak kekerasan pada sesama, jawabanya tidak pernah jelas dan beragam. Apakah hal ini karena faktor keagamaan, etnisitas, ekonomi dan politik atau faktor lain, masih menjadi bahan perdebatan panjang. Fungsi agama pun tetap diperdebatkan oleh para ilmuan, apakah agama sebagai pemicu konflik atau agama sebagai faktor integrasi sosial.

Fungsi Agama

Dari segi “Pragmatisme”
seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya.
Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan
hidup.
Tetapi dari “Sains sosial” fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang diuraikan di bawah:
Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.

Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia karena ia sentiasanya
memberi penerangan kepada dunia(secara keseluruhan), dan juga kedudukan
“Manusia” di dalam dunia. Penerangan dalam masalah ini sebenarnya sulit dicapai melalui indra manusia, melainkan sedikit penerangan daripada “Falsafah”.
Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahwa dunia adalah ciptaan Tuhan dan setiap manusia harus menaati Tuhan.
Menjawab pelbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
Sebagian pertanyaan yang sentiasa ditanya oleh“Manusia” merupakan pertanyaan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri.
Contohnya pertanyaan kehidupan setelah “Mati” ,nasib, dan soal “Hidup” dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, pertanyaan-pertanyaan ini sangat menarik dan perlu untuk menjawabnya. Maka, agama itulah fungsinya untuk menjawab soalan-soalan ini. Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok “Manusia”. Ini adalah karena sistem agama menimbulkan keseragaman bukan saja Kepercayaan yang sama, melainkan tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.
Memainkan fungsi peranan sosial.
Kebanyakan agama di dunia ini menyarankan kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kode Etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi peranan sosial.


SEBAB TIMBULNYA KONFLIK MASYARAKAT BERAGAMA

Sepanjang sejarah agama dapat memberi sumbangsih positif bagi masyarakat dengan
memupuk persaudaraan dan semangat kerjasama antar anggota masyarakat.
Namun sisi yang lain, agama juga dapat sebagai pemicu konflik antar
masyarakat beragama. Ini adalah sisi negatif dari agama dalam
mempengaruhi masyarakat Dan hal ini telah terjadi di beberapa tempat di
Indonesia. Pada bagian ini akan diuraikan sebab terjadinya konflik antar
masyarakat beragama khususnya yang terjadi di Indonesia dalam
perspektif sosiologi agama. Hendropuspito mengemukakan bahwa paling tidak ada empat hal pokok sebagai sumber konflik sosial yang bersumber dari agama.
Dengan menggunakan kerangka teori Hendropuspito, penulis ingin
menyoroti konflik antar kelompok masyarakat Islam - Kristen di
Indonesia, dibagi dalam empat hal, yaitu
1.    Perbedaan Doktrin dan Sikap Mental
Semua pihak umat beragama yang sedang terlibat dalam bentrokan
masing-masing menyadari bahwa justru perbedaan doktrin itulah yang
menjadi penyebab dari benturan itu. Entah sadar atau tidak, setiap pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya, membandingkan dengan ajaran agama lawan, memberikan penilaian atas agama sendiri dan agama lawannya. Dalam skala penilaian
yang dibuat (subyektif) nilai tertinggi selalu diberikan kepada agamanya sendiri dan agama sendiri selalu dijadikan kelompok patokan,
sedangkan lawan dinilai menurut patokan itu. Agama Islam dan Kristen di Indonesia, merupakan agama samawi (revealed religion), yang meyakini terbentuk dari wahyu Ilahi Karena itu memiliki rasa superior, sebagai agama yang berasal dari Tuhan. Di beberapa tempat terjadinya kerusuhan kelompok masyarakat Islam dari aliran sunni atau santri. Bagi golongan sunni, memandang Islam dalam keterkaitan dengan keanggotaan dalam umat, dengan demikian Islam adalah juga hukum dan politik di samping agama. Islam sebagai hubungan pribadi lebih dalam artian pemberlakuan hukum dan oleh sebab itu
hubungan pribadi itu tidak boleh mengurangi solidaritas umat, sebagai
masyarakat terbaik di hadapan Allah. Dan mereka masih berpikir tentang
pembentukan negara dan masyarakat Islam di Indonesia. Kelompok ini
begitu agresif, kurang toleran dan terkadang fanatik dan malah menganut
garis keras. Karena itu, faktor perbedaan doktrin dan sikap mental dan kelompok
masyarakat Islam dan Kristen punya andil sebagai pemicu konflik.

2.    Perbedaan Suku dan Ras Pemeluk Agama
Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan ras dan agama memperlebar
jurang permusuhan antar bangsa. Perbedaan suku dan ras ditambah dengan
perbedaan agama menjadi penyebab lebih kuat untuk menimbulkan
perpecahan antar kelompok dalam masyarakat. Contoh di wilayah Indonesia, antara Suku Aceh dan Suku Batak di
Sumatera Utara. Suku Aceh yang beragama Islam dan Suku Batak yang
beragama Kristen; kedua suku itu hampir selalu hidup dalam ketegangan,
bahkan dalam konflik fisik (sering terjadi), yang merugikan ketentraman
dan keamanan. Di beberapa tempat yang terjadi kerusuhan seperti: Situbondo,
Tasikmalaya, dan Rengasdengklok, massa yang mengamuk adalah penduduk
setempat dari Suku Madura di Jawa Timur, dan Suku Sunda di Jawa Barat.
Sedangkan yang menjadi korban keganasan massa adalah kelompok pendatang
yang umumnya dari Suku non Jawa dan dari Suku Tionghoa. Jadi, nampaknya
perbedaan suku dan ras disertai perbedaan agama ikut memicu terjadinya
konflik.
3.    Perbedaan Tingkat Kebudayaan
Agama sebagai bagian dari budaya bangsa manusia. Kenyataan
membuktikan perbedaan budaya berbagai bangsa di dunia tidak sama.
Secara sederhana dapat dibedakan dua kategori budaya dalam masyarakat,
yakni budaya tradisional dan budaya modern. Tempat-tempat terjadinya konflik antar kelompok masyarakat agama
Islam - Kristen beberapa waktu yang lalu, nampak perbedaan antara dua
kelompok yang konflik itu. Kelompok masyarakat setempat memiliki budaya
yang sederhana atau tradisional: sedangkan kaum pendatang memiliki
budaya yang lebih maju atau modern. Karena itu bentuk rumah gereja
lebih berwajah budaya Barat yang mewah. Perbedaan budaya dalam kelompok masyarakat yang berbeda agama di
suatu tempat atau daerah ternyata sebagai faktor pendorong yang ikut
mempengaruhi terciptanya konflik antar kelompok agama di Indonesia.
4.    Masalah Mayoritas da Minoritas Golongan Agama
Fenomena konflik sosial mempunyai aneka penyebab. Tetapi dalam
masyarakat agama pluralitas penyebab terdekat adalah masalah mayoritas
dan minoritas golongan agama. Di berbagai tempat terjadinya konflik, massa yang mengamuk adalah beragama Islam sebagai kelompok mayoritas; sedangkan kelompok yang ditekan dan mengalami kerugian fisik dan mental adalah orang Kristen
yang minoritas di Indonesia. Sehingga nampak kelompok Islam yang
mayoritas merasa berkuasa atas daerah yang didiami lebih dari kelompok
minoritas yakni orang Kristen. Karena itu, di beberapa tempat orang
Kristen sebagai kelompok minoritas sering mengalami kerugian fisik,
seperti: pengrusakan dan pembakaran gedung-gedung ibadat



Kelembagaan Agama

Agama telah dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling
sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan
perdamaian batin individu; sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang
membuat manusia beradab. Sebenarnya lembaga keagamaan adalah menyangkut
hal yang mengandung arti penting tertentu, menyangkut masalah aspek
kehidupan manusia, yang dalam transendensinya, mencakup sesuatu yang
mempunyai arti penting dan menonjol bagi manusia. Bahkan sejarah
menunjukkan bahwa lembaga-lembaga keagamaan merupakan bentuk asosiasi
manusia yang paling mungkin untuk terus bertahan
Dalam kaitannya dengan lembaga sosial yang ada dalam masyarakat, hendaknya
cara berpikir sosiologis dipusatkan pada lembaga-lembaga kecil dan
besar, serta gabungan lembaga-lembaga yang merupakan sub-sub sistem
dalam masyarakat. Para sosiolog cenderung untuk memperhatikan paling
sedikit 4 kelompok lembaga-lembaga yang penting (yang dapat dijabarkan
ke dalam kategori-kategori yang lebih kecil dan khusus), yakni Lembaga-lembaga politik yang ruang lingkupnya adalah penerapan kekuasaan dan monopoli pada penggunaan kekuasaan secara sah.
Lembaga-lembaga ekonomi yang mencakup produksi dan distribusi barang dan jasa.
Lembaga-lembaga yang menurut Inkeles adalah (Alex inkeles 1965: 68) Walaupun
tampaknya, suatu lembaga memusatkan perhatian terhadap suatu aspek
kemasyarakatan tertentu, namun di dalam kenyataan lembaga-lembaga
tersebut saling berkaitan secara fungsional. Setiap lembaga
berpartisipasi dan memberikan kontribusi dengan cara-cara tertentu pada
kehidupan masyarakat setempat.
Perbincangan tentang agama dan masyarakat memang tidak akan pernah selesai, seiring
dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Baik secara teologis maupun
sosiologis, agama dapat dipandang sebagai instrument untuk memahami
dunia. Dalam konteks itu, hampir-hampir tak ada kesulitan bagi agama
apapun untuk menerima premis tersebut. Secara teologis hal itu
dikarenakan oleh watak agama. Yaitu, agama, baik
melalui simbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya “hadir
dimana-mana”, ikut mempengaruhi, bahkan membentuk struktur sosial,
budaya , ekonomi dan politik serta kebijakan publik. Dengan ciri ini,
dipahami bahwa dimanapun suatu agama berada, ia diharapkan dapat
memberi panduan nilai bagi seluruh diskursus kegiatan manusia, baik
yang bersifat sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Sementara itu,
secara sosiologis tak jarang agama menjadi faktor penentu dalam proses
transformasi dan modernisasi.
Kehadiran agama-agama didunia memang mampu memberikan warna-warni terhadap
kehidupan dunia. Karena agama secara umum kehadirannya disertai dua muka. Pada satu sisi , secara inherent agama memiliki idensitas yang bersifat “exclusive”, “particularist” “primordial”. Akan tetapi, pada waktu yang sama, agama juga kaya akan identitas yang bersifat “inclusive”, “universalist”.
Atau dengan kata lain mempunyai energi konstruktif dan destruktif
terhadap umat manusia. Yang dalam perjalanan sejarahnya mampu
memberikan kedamaian hidup umat manusia, tetapi juga menimbulkan
malapetaka bagi dunia akibat perang antar agama dan politisasi suatu
agama tertentu oleh para penguasa yang dzolim. Sejarah mencatat “perang
salib” atau “perang sabil” antara islam dengan Kristen selama empat
abad lamanya dengan kemenangan silih berganti.
Pemeluk agama-agama di dunia meyakini bahwa fungsi utama agama yang dipeluknya
itu adalah memandu kehidupan manusia agar memperoleh keselamatan di
dunia dan keselamatan sesudah hari kematian. Mereka menyatakan bahwa
agamanya menyatakan kasih sayang pada sesama manusia dan sesama makhluk
Tuhan, alam tumbuh-tumbuhan, hewan, hingga benda mati.
Sehingga dalam usahanya untuk membentuk kehidupan yang damai, banyak
dari para ahli dan agamawan dari tiap-tiap agama melakukan
dialog-dialog untuk memecahkan konflik keagamaan. Pada level dunia
mulai muncul pandangan tentang yaitu suatu agama yang tidak membedakan dari mana asal teologis dan unsur suatu agama tetapi memandang tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kedamaian dan keberlangsungan hidup berdampingan.
Di Indonesia sendiri konflik agama baik yang bersifat murni maupun yang
ditumpangi oleh aspek budaya, politik, ideologi dan kepentingan
golongan banyak mewarnai perjalanan sejarah Indonesia. Bahkan diera
reformasi dan paska reformasi, agama telah menunjukkan peran dan
fungsinya yang nyata. Baik kekuatan yang konstuktif maupun kekuatan
yang destruktif. Sesudah gerakan reformasi, suatu keyakinan ketuhanan
atau keagamaan banyak dituduh telah menyebabkan konflik kekerasan
dinegeri ini. Selama empat tahun belakangan, ribuan anak bangsa mati
tanpa tahu untuk apa. Ribuan manusia terusir dari kampong halamannya,
tempat mereka dilahirkan. Ribuan anak-anak lainnya pun menjadi piatu,
kehilangan sanak keluarganya dan orang-orang yang dikasihi.
Pertanyaan tentang mengapa bangsa yang selama ini dikenal santun dan relegius,
berubah beringas dan mudah melakukan tindak kekerasan pada sesama,
jawabanya tidak pernah jelas dan beragam. Apakah hal ini karena faktor
keagamaan, etnisitas, ekonomi dan politik atau faktor lain, masih
menjadi bahan perdebatan panjang. Fungsi agama pun tetap diperdebatkan
oleh para ilmuan, apakah agama sebagai pemicu konflik atau agama
sebagai faktor integrasi sosial.

Sumber : islamkuno.com